Ciamis  

INU Ciamis Buka Pascasarjana, Biaya Terjangkau Bukan Berarti Mutu Turun

CIAMIS. Institut Nahdlatul Ulama (INU) Ciamis mulai membangun langkah baru dalam pengembangan pendidikan tinggi melalui penyelenggaraan kuliah perdana dan matrikulasi mahasiswa pascasarjana. Momentum ini tidak sekadar menandai dimulainya perkuliahan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses pendidikan magister bagi masyarakat di daerah.

Rektor INU Ciamis, Dr. H. Kusoy Fadiliah, M.Si., mengatakan, kehadiran program pascasarjana diharapkan membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk meningkatkan kapasitas keilmuan tanpa harus meninggalkan daerah asal atau terbebani biaya pendidikan yang tinggi.

Menurutnya, pendidikan magister tidak seharusnya hanya dapat diakses oleh kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi tertentu atau mereka yang tinggal di kota-kota besar.

“INU Ciamis ingin membuktikan bahwa masyarakat daerah juga berhak memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas dengan biaya terjangkau. Kuliah S2 tidak harus mahal, pendidikan tidak harus eksklusif, dan untuk menjadi magister seseorang tidak harus meninggalkan daerahnya sendiri,” ujarnya.

Kusoy menegaskan, keterjangkauan biaya menjadi salah satu komitmen kampus untuk membantu masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan, terutama guru, tenaga kependidikan, pekerja, aparatur, tokoh masyarakat, serta para sarjana yang ingin memperdalam keilmuan.

Selama ini, keinginan melanjutkan pendidikan ke jenjang magister kerap terbentur persoalan biaya. Kondisi tersebut menjadi perhatian INU Ciamis dalam mengembangkan layanan pendidikan yang lebih terbuka bagi berbagai kalangan.

Namun, ia mengingatkan bahwa biaya pendidikan yang terjangkau tidak boleh dimaknai sebagai penurunan standar akademik.

“Biaya terjangkau bukan berarti mutu pendidikan diturunkan. Kami ingin memperluas akses pendidikan tanpa mengorbankan kualitas pembelajaran,” katanya.

Matrikulasi Jadi Fondasi Kualitas Akademik

Bagi INU Ciamis, kuliah perdana dan matrikulasi bukan sekadar agenda pembuka tahun akademik. Keduanya menjadi tahap awal untuk membangun kesiapan mahasiswa dalam mengikuti proses pembelajaran di tingkat pascasarjana.

Mahasiswa tidak cukup hanya mengandalkan pengalaman belajar sebelumnya. Mereka perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, memahami metodologi penelitian, menyusun karya ilmiah, serta mengembangkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kusoy menilai, keberhasilan pendidikan magister tidak semestinya hanya diukur dari gelar yang diperoleh setelah menyelesaikan studi. Perubahan pola pikir, kedalaman analisis, kemampuan meneliti, dan produktivitas menghasilkan karya ilmiah juga menjadi ukuran penting.

“Jangan sampai gelarnya bertambah, tetapi cara berpikirnya tidak berkembang. Mahasiswa pascasarjana harus mampu membaca persoalan secara kritis, melakukan penelitian, menghasilkan karya ilmiah, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

Untuk menjaga kualitas pembelajaran, INU Ciamis juga berupaya melibatkan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi akademik dan pengalaman keilmuan yang memadai. Sejumlah guru besar dan pimpinan perguruan tinggi, menurut Kusoy, telah menyatakan kesediaan untuk mendukung pengembangan program pascasarjana tersebut.

Pemanfaatan pembelajaran daring maupun tatap muka akan disesuaikan dengan kebutuhan proses akademik. Meski demikian, pendampingan mahasiswa tetap menjadi perhatian agar proses pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga mendorong kemampuan analisis dan penelitian.

Menyiapkan Intelektual dan Pemimpin Masa Depan

Kusoy menyebut, pengembangan pascasarjana INU Ciamis diarahkan untuk membangun generasi intelektual yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki wawasan luas, integritas, serta kekuatan moral dan spiritual.

Lulusan magister diharapkan mampu mengambil peran lebih besar di bidang pendidikan, penelitian, pelayanan publik, maupun pengembangan masyarakat.

Karena itu, kampus ingin menjadikan program pascasarjana sebagai ruang pengembangan kapasitas akademik sekaligus tempat lahirnya gagasan dan solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.

“Kami ingin membangun fondasi lahirnya generasi intelektual, pendidik, peneliti, dan calon pemimpin masa depan yang memiliki kedalaman ilmu, keluasan wawasan, serta kekuatan moral dan spiritual,” tuturnya.

Melalui penyelenggaraan kuliah perdana dan matrikulasi ini, INU Ciamis berharap semakin banyak masyarakat yang berani melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Tantangannya bukan hanya membuka akses agar pendidikan lebih terjangkau, melainkan memastikan setiap mahasiswa memperoleh proses pembelajaran yang bermutu dan mampu mengembangkan kompetensi setelah menyelesaikan studi.

Dengan demikian, pendidikan pascasarjana di daerah diharapkan tidak sekadar menjadi jalan untuk memperoleh gelar akademik, tetapi juga menghasilkan sumber daya manusia yang mampu berpikir lebih tajam, bekerja lebih profesional, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. (Rd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *