Dusun Sirnarasa Andalkan Peternakan Ayam sebagai Inovasi Pemberdayaan Warga

Oplus_131072

CIAMIS, lokacita.com,- Dusun Sirnarasa, Desa Beber, Kabupaten Ciamis, mengembangkan peternakan ayam sebagai salah satu inovasi pemberdayaan masyarakat. Program tersebut mulai berjalan sekitar dua bulan dan kini telah berkembang hingga sekitar 1.300 ekor ayam yang tersebar di tengah masyarakat.

Inovasi tersebut menjadi salah satu bagian yang diperlihatkan dalam penilaian antardusun yang dilaksanakan Pemerintah Desa Beber, Sabtu (15/08/2026).

Kepala Dusun Sirnarasa, Ahmad Gojali, mengatakan pengembangan peternakan dipilih karena dinilai lebih mudah diikuti masyarakat dibandingkan program yang hanya bertumpu pada sektor pertanian.

Dusun Sirnarasa sendiri memiliki sekitar 870 jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 kepala keluarga menjadi bagian dari masyarakat yang menjadi sasaran pengembangan program pemberdayaan.

“Kalau di Sirnarasa, yang kami dorong sekarang peternakan. Konsepnya satu kepala keluarga memelihara sekitar 10 ekor ayam. Program ini sudah berjalan kurang lebih dua bulan dan sekarang sudah sekitar 1.300 ekor,” ujar Ahmad.

Ditargetkan Capai 3.000 Ekor

Menurut Ahmad, pengembangan peternakan ayam tersebut masih berada pada tahap awal. Namun, melihat respons masyarakat dan perkembangan yang terjadi, pihak dusun menargetkan jumlah ayam dapat mencapai sekitar 3.000 ekor pada Desember 2026.

Pemantauan dilakukan secara berjenjang melalui masing-masing RT. Setiap RT bertanggung jawab memantau perkembangan ternak yang berada di wilayahnya, termasuk jumlah ayam, kondisi kesehatan hingga tingkat kematian ternak.

“Misalnya satu RT memiliki 50 ekor, nanti dilihat perkembangannya. Berapa yang mati, bagaimana kondisi ayamnya dan bagaimana bobotnya. Dari situ kami bisa mengetahui perkembangannya,” katanya.

Dalam dua bulan pertama, perkembangan ternak disebut menunjukkan hasil positif. Ahmad menyebut jumlah dan perkembangan ternak secara keseluruhan mengalami peningkatan sekitar 20 persen.

Warga Mulai Antusias Beternak

Ahmad menilai antusiasme warga terhadap program peternakan cukup tinggi. Bahkan, respons masyarakat disebut lebih baik dibandingkan program pemberdayaan sebelumnya.

Menurutnya, tidak semua warga memiliki ketertarikan atau lahan yang memungkinkan untuk mengembangkan pertanian. Sementara peternakan ayam dapat dilakukan dari lingkungan rumah masing-masing dengan skala yang disesuaikan kemampuan warga.

“Alhamdulillah, antusias masyarakat sekarang luar biasa bagus. Kalau pertanian kan tidak semua warga hobi bertani. Sedangkan peternakan ini bisa dilakukan di rumah,” ujarnya.

Untuk menjaga kebersihan lingkungan, pengelolaan kandang juga menjadi perhatian. Ahmad menyebut pihaknya menggunakan konsep pemeliharaan dengan media pasir sehingga kotoran ternak tidak menimbulkan bau yang mengganggu lingkungan rumah.

Tantangan Cuaca dan Kesehatan Ayam

Di tengah perkembangan program, bukan berarti peternakan ayam tanpa kendala. Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah kondisi cuaca yang cenderung dingin sehingga berpengaruh terhadap kesehatan ayam.

Ahmad mengatakan pihaknya terus mencari langkah antisipasi agar gangguan kesehatan ternak dapat ditekan dan tingkat kematian ayam tidak menghambat perkembangan program.

“Sekarang tantangannya musim dingin. Ayam cukup rentan terkena gangguan kesehatan. Kami terus mencari antisipasinya supaya ternak tetap sehat,” katanya.

Dari sisi pemasaran, justru menjadi salah satu faktor yang cukup mendukung keberlanjutan program. Permintaan ayam disebut terus meningkat, sementara harga jual masih berada di kisaran Rp35.000 per kilogram.

“Kalau harga jual masih standar, sekitar Rp35.000 per kilogram. Untuk pemasaran justru cukup bagus karena permintaan pasar banyak dan meningkat,” ujar Ahmad.

Dukung Penanganan Stunting

Program peternakan ayam di Dusun Sirnarasa juga diarahkan untuk mendukung upaya penanganan stunting. Produk ternak yang dihasilkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi warga, tetapi juga diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi keluarga.

Ahmad mengatakan program tersebut mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk unsur puskesmas dan kecamatan.

“Untuk stunting memang kami utamakan juga. Bu Kapus dan Bu Camat ikut mendukung program kami,” katanya.

Ia mencontohkan, pada salah satu kegiatan, sekitar 16 ekor ayam dibeli untuk kemudian diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk keluarga dengan anak yang masuk dalam penanganan stunting.

Dengan konsep tersebut, peternakan ayam di Dusun Sirnarasa tidak hanya diarahkan sebagai kegiatan ekonomi produktif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan pangan dan mendukung pemenuhan gizi masyarakat.

Penilaian Antardusun Jadi Momentum Evaluasi

Sementara itu, Kepala Desa Beber, Abdul Wahid Miftah Sofa, mengatakan penilaian antardusun menjadi sarana untuk melihat sejauh mana kesiapan masyarakat dalam menjaga kebersihan, ketertiban dan keindahan lingkungan sekaligus melihat berbagai inovasi yang dikembangkan masing-masing dusun.

“Penilaian ini merupakan bagian dari penyaringan di tingkat desa untuk menentukan dusun yang nantinya menjadi perwakilan Desa Beber ke tingkat kecamatan. Yang kami lihat bukan hanya kondisi lingkungan saat penilaian, tetapi juga bagaimana partisipasi dan kesadaran masyarakat dalam menjaganya,” ujar Abdul Wahid.

Menurutnya, keberadaan program pemberdayaan seperti yang dikembangkan Dusun Sirnarasa menjadi bagian penting dalam melihat potensi masyarakat di masing-masing wilayah.

Ia berharap penilaian tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial atau perlombaan semata. Kebiasaan menjaga lingkungan dan mengembangkan potensi warga harus tetap berjalan meskipun proses penilaian telah selesai.

“Harapannya kegiatan seperti ini bisa membangun kesadaran masyarakat. Jadi kebersihan, ketertiban dan keindahan bukan hanya dilakukan ketika ada penilaian, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari,” katanya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *