Dari Aceh ke Tatar Galuh, Baitul Mal Subulussalam Berguru ke Baznas Ciamis

Oplus_131072

CIAMIS – Reputasi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Ciamis sebagai salah satu lembaga pengelola zakat terbaik di Indonesia kembali menarik perhatian daerah lain.

Kali ini, rombongan Baitul Mal Kota Subulussalam, Aceh, datang langsung ke Tatar Galuh untuk mempelajari berbagai inovasi dan sistem pengelolaan zakat yang selama ini diterapkan Baznas Ciamis.

Menariknya, kunjungan studi tiru yang berlangsung pada Sabtu (20/6/2026) itu dipimpin langsung oleh Wali Kota Subulussalam, M. Rasyid, bersama jajaran pengurus Baitul Mal Kota Subulussalam.

Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa keberhasilan pengelolaan zakat di Kabupaten Ciamis kini telah menjadi rujukan bagi banyak daerah di Indonesia.

M. Rasyid mengatakan, pihaknya sengaja datang ke Kabupaten Ciamis untuk melihat secara langsung praktik pengelolaan zakat, infak, dan sedekah yang dinilai mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

“Kami datang ke Baznas Kabupaten Ciamis agar potensi zakat, infak, dan sedekah di daerah kami bisa terus berkembang. Kami melihat Ciamis memiliki sistem yang sangat baik. Penghimpunan zakatnya meningkat dari tahun ke tahun dan manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, hampir seluruh sistem yang diterapkan Baznas Ciamis menjadi bahan pembelajaran bagi Baitul Mal Kota Subulussalam.

Mulai dari strategi penghimpunan zakat, penguatan peran ASN dan OPD, keterlibatan pemerintah kecamatan dan desa, hingga tata kelola keuangan serta program pendistribusian kepada masyarakat.

“Semua yang ada di sini menjadi bahan pembelajaran bagi kami. Bagaimana zakat dihimpun, dikelola, hingga disalurkan kepada masyarakat. Kami ingin mengambil praktik-praktik baik yang bisa diterapkan di Subulussalam,” katanya.

Rasyid menjelaskan, terdapat perbedaan regulasi dalam pengelolaan zakat antara Aceh dan daerah lain di Indonesia. Di Aceh, lembaga pengelola zakat dikenal dengan nama Baitul Mal dan memiliki mekanisme pengelolaan yang berbeda karena diatur dalam regulasi khusus.

Karena itu, pihaknya ingin mempelajari secara langsung pola pengelolaan yang diterapkan di Kabupaten Ciamis untuk kemudian disesuaikan dengan aturan yang berlaku di daerahnya.

“Menurut kami, apa yang dilakukan Ciamis sangat luar biasa. Tidak heran jika banyak daerah datang ke sini untuk belajar. Kami juga ingin membawa pulang pengalaman dan pengetahuan yang bisa memperkuat pengelolaan zakat di Kota Subulussalam,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Baznas Kabupaten Ciamis, H. Lili Miftah, menyambut baik kunjungan rombongan dari Aceh tersebut. Ia mengaku bangga karena Baznas Ciamis kembali dipercaya menjadi tempat belajar bagi daerah lain.

“Kami mengapresiasi kehadiran Pak Wali Kota yang memimpin langsung rombongan. Ini merupakan kehormatan bagi kami. Alhamdulillah, apa yang dilakukan di Ciamis ternyata bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain, bahkan hingga luar Pulau Jawa,” ujarnya.

Menurut Lili, salah satu program yang paling banyak menarik perhatian daerah lain adalah Program Infak Desa, sebuah gerakan sosial berbasis masyarakat yang berkembang di Kabupaten Ciamis dan telah memberikan manfaat nyata bagi warga.

Berbeda dengan program penghimpunan zakat pada umumnya, Program Infak Desa mendorong partisipasi masyarakat hingga tingkat lingkungan terkecil.

Dana yang terkumpul kemudian dimanfaatkan untuk membantu warga yang membutuhkan, mulai dari bantuan rumah tidak layak huni, bantuan kesehatan, pendidikan, hingga kebutuhan sosial lainnya.

“Program Infak Desa ini menjadi daya tarik tersendiri. Banyak daerah datang ke Ciamis untuk mengetahui bagaimana program ini berjalan dan bagaimana manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” jelasnya.

Lili menegaskan, keberhasilan Baznas Ciamis bukan semata-mata karena lembaga pengelolanya, melainkan berkat tingginya kesadaran masyarakat dalam menunaikan zakat, infak, dan sedekah.

“Kami hanya menjadi pengelola amanah. Yang luar biasa adalah masyarakat Kabupaten Ciamis yang memiliki kepedulian tinggi. Dari infak yang nilainya kecil tetapi dilakukan bersama-sama, manfaatnya bisa sangat besar dan mampu membantu banyak warga yang membutuhkan,” katanya.

Ia mengungkapkan, kunjungan studi tiru ke Baznas Ciamis terus berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah daerah dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga Aceh telah datang untuk mempelajari sistem pengelolaan zakat yang diterapkan di Kabupaten Ciamis.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Baznas Ciamis tidak hanya berhasil dalam menghimpun dana zakat, tetapi juga mampu menghadirkan program-program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Dari Tatar Galuh, berbagai inovasi pengelolaan zakat terus menyebar dan menginspirasi daerah lain. Kunjungan Baitul Mal Kota Subulussalam menjadi satu lagi bukti bahwa model pengelolaan zakat yang dibangun di Kabupaten Ciamis kini telah menjadi referensi nasional dalam upaya memperkuat kesejahteraan umat melalui zakat, infak, dan sedekah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *